Pengaruh Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Terhadap Minat dan Motivasi Belajar Peserta Didik

Pengaruh Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran  Terhadap Minat dan Motivasi Belajar Peserta Didik
teacher asking question with children in classroom

Motivasi merupakan faktor penting dalam keberhasilan peserta didik, merupakan gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan tindakan dengan tujuan tertentu. Terdapat dua motivasi belajar yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Ada tiga aspek suasana sekolah yang dapat mempengaruhi motivasi dan proses belajar yaitu lingkungan sosial, lingkungan fisik dan lingkungan belajar. Kompetensi guru dan motivasi peserta didik memiliki kaitan yang erat. Peserta didik akan memiliki persepsi yang baik terhadap guru dengan kompetensi yang mumpuni. Guru harus memperhatikan rasa ingin tahu peserta didik terhadap materi pelajaran, kebutuhan peserta didik terhadap pelajaran, serta perhatian peserta didik saat menerima pelajaran. Untuk terwujudnya peserta didik yang memenuhi ketiga kompetensi dalam ranah sikap, pengetahuan dan ketrampilan, guru memegang peranan yang sangat penting. Salah satu peran guru adalah menumbuhkan motivasi peserta didik dalam  belajar. Guru perlu mengarahkan sedemikian rupa agar proses pembelajaran berlangsung secara maksimal. Minat belajar merupakan salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi belajar peserta didik dan juga merupakan salah satu motivasi yang utama yang dapat membangkitkan gairah belajar peserta didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran salah satu hal yang perlu diperhatikan guru adalah strategi pembelajaran, karena hal itu sangat berpengaruh untuk keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan.

Maaruf Fauzan, Widyaiswara LPMP AcehEmail: maarufaceh@gmail.com

PENDAHULUAN

Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut diperlukan profil kualifikasi kemampuan lulusan yang dituangkan dalam standar kompetensi lulusan pada setiap jenjang pendidikan. Dalam penjelasan Pasal 35 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa standar kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik yang harus dipenuhinya atau dicapainya dari suatu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Pada hakikatnya pendidikan adalah suatu usaha penyiapan peserta didik untuk menghadapi lingkungan yang selalu mengalami perubahan yang semakin pesat. Pendidikan juga merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya. Pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang mampu berpikir global (think globally), dan mampu bertindak lokal (act locally), serta dilandasi oleh akhlak yang mulia. Tujuan akhir dari pendidikan adalah mencetak sumber daya yang unggul, berdaya saing tinggi serta memiliki prestasi yang tinggi. 

Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan guru dan peserta didik dalam kondisi dan suasana keilmuan baik di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Tujuan pembelajaran adalah untuk menyebarluaskan informasi pengetahuan kepada khalayak yang sesuai dan memerlukan informasi tersebut. Dalam pembelajaran, motivasi sangat penting untuk mendorong peserta didik untuk berbuat, menentukan arah tujuan yang hendak dicapai dan menyeleksi aktifitas yang harus dilakukan. 

Untuk mengetahui kualitas peserta didik di Indonesia digunakan referensi dari hasil penelitian lembaga kredibel dan diakui secara internasional yaitu PISA (the Program for International Student Assesment).  Berdasarkan hasil studi PISA,  sebuah studi yang dikembangkan oleh beberapa negara maju di dunia setiap tiga tahun sekali yang tergabung dalam the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang berkedudukan di Paris (Perancis), di mana studi yang dilakukan adalah memonitor hasil capaian belajar peserta didik di tiap negara peserta yang mencakup literasi membaca (reading literacy), literasi matematika (mathematic literacy), dan literasi sains (scientific literacy), menunjukkan bahwa peringkat capaian sains untuk Indonesia berada pada peringkat bawah dari 65 negara yang mengikuti studi PISA 2011, dengan rincian sebagai berikut: literasi membaca berada pada peringkat 57, literasi matematika berada pada peringkat 61, dan literasi sains berada pada peringkat 60 (www.pisa.oecd.org). Rendahnya hasil belajar peserta didik di bidang sains ditengarai berhubungan dengan proses pembelajaran yang belum memberikan peluang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan bernalar secara kritis, pola pengajaran yang cenderung di dominasi teori-teori yang berbentuk verbal.

Permasalahan tersebut, salah satunya dapat berupa pada kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Guru dituntut melaksanakan pembelajaran sesuai dengan standar-standar pada delapan standar nasional pendidikan. Demikian juga dengan motivasi peserta didik, idealnya peserta didik harus mengikuti pelajaran dengan penuh antusiasme dan mempunyai target-target tertentu yang diharapkan dapat tercapai. Dua hal tersebut belum terlaksana secara optimal dalam pembelajaran.  Kajian ini bertujuan untuk mengetahui tentang besarnya motivasi dan minat peserta didik dalam belajar  serta kemampuan dan upaya guru dalam mengelola pembelajaran di sekolah.

PEMBAHASAN

Motivasi merupakan faktor penting dalam keberhasilan peserta didik, berupa gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan tindakan dengan tujuan tertentu. Terdapat dua motivasi belajar yaitu:

  1. Motivasi intrinsik 

Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsik berpengaruh terhadap kelangsungan proses belajar peserta didik. 

  1. Motivasi ekstrinsik 

Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Motivasi dalam belajar dapat menentukan baik atau tidaknya dalam mencapai tujuan, sehingga semakin besar motivasi maka semakin besar kesuksesan dalam belajar, dan berdampak pada meningkatnya prestasi belajar peserta didik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ahmadi (2005), faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa digolongkan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti kecerdasan, faktor jasmaniah, faktor fisiologis, sikap, minat dan bakat. Selanjutnya, faktor eksternal ada dua macam yaitu faktor lingkungan sosial dan nonsosial.  Slamet (2013) juga mengatakan bahwa faktor eksternal yang dapat mempengaruhi belajar adalah keadaaan keluarga, keadaan sekolah, dan lingkungan masyarakat. 

Untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, guru harus memperhatikan rasa ingin tahu peserta didik terhadap materi pelajaran, kebutuhan peserta didik terhadap pelajaran dan perhatian peserta didik dalam menerima pelajaran. Ada tiga aspek suasana sekolah yang dapat mempengaruhi motivasi dan proses belajar yaitu lingkungan sosial, lingkungan fisik dan lingkungan belajar. Pihak sekolah harus melakukan upaya sedemikian rupa agar ketiga faktor ini dapat terbangun dan tertata dengan baik. Untuk lingkunagn sosial seperti terbangun komunikasi dan interaksi sesama warga sekolah yang didalamnya ada kepala sekolah, dewan guru, karyawan, tenaga layanan khusus dan tentunya juga peserta didik sebagai subjek dalam sebuah lembaga pendidikan. Untuk membangun lingkungan fisik dapat dilakukan dengan menyediakan sarana dan prasarana sekolah yang memadai serta mengembangkan lingkungan sekolah yang nyaman, aman, asri dan kondusif bagi peserta didik. Untuk lingkungan belajar dapat dilakukan dengan mengembangkan budaya literasi serta fasilitas literasi baik dalam ruang kelas maupun dalam lingkungan sekolah seperti sudut baca atau pojok baca. 

Apabila seorang peserta didik memiliki kesadaran akan kebutuhan berprestasi, kebutuhan berafiliasi, maka akan dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik tersebut. Dibutuhkan motivator yang baik untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Untuk dapat  memotivasi peserta didik, guru harus memiliki kompetensi yang unggul. Kompetensi guru dan motivasi peserta didik memiliki kaitan yang erat. Peserta didik akan memiliki persepsi yang baik terhadap guru dengan kompetensi yang mumpuni. Hal ini sesuai dengan penelitian Suranto (2015) yang menyatakan bahwa motivasi, suasana lingkungan dan ketersediaan sarana prasarana belajar mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap hasil belajar. Suasana lingkungan meliputi keterlibatan peserta didik dalam kelas, kebebasan mengekspresikan diri secara bebas dan terbuka, interaksi peserta didik dengan guru serta dukungan lingkungan fisik seperti kelengkapan, kenyamanan, keamanan dan keteraturan lingkungan. Menurut Slamet (2013), peserta didik yang kurang memperhatikan pelajaran mengindikasikan bahwa peserta didik memiliki minat belajar yang rendah karena minat belajar adalah suatu ketertarikan atau kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, dalam hal ini berupa kegiatan belajar. Peserta didik yang memiliki motivasi belajar yang kurang menyebabkan peserta didik memiliki dorongan yang kurang dalam belajar. 

Minat belajar merupakan salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi belajar peserta didik dan juga merupakan salah satu motivasi yang utama yang dapat membangkitkan gairah belajar peserta didik. Djamarah (2011) mengatakan bahwa minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah. Oleh karena itu minat belajar peserta didik harus dibangkitkan agar peserta didik lebih tertarik terhadap pelajaran yang diberikan guru. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik terhadap materi pelajaran, rasa kebutuhan peserta didik, serta perhatian peserta didik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Syah (2011) bahwa minat bergantung pada faktor-faktor internal lainnya seperti pemusatan perhatian, keingitahuan, dan kebutuhan. Oleh karena itu, untuk membangkitkan minat belajar peserta didik, guru harus memperhatikan rasa ingin tahu peserta didik terhadap materi pelajaran, kebutuhan peserta didik terhadap pelajaran, serta perhatian peserta didik saat menerima pelajaran. Untuk terwujudnya peserta didik yang memenuhi ketiga kompetensi, guru memegang peranan yang sangat penting. Salah satu peran guru adalah menumbuhkan motivasi peserta didik dalam  belajar. Guru perlu mengarahkan sedemikian rupa agar proses pembelajaran berlangsung secara maksimal. Peserta didik mengikuti pembelajaran dengan antusias dan penuh keceriaan. Pembelajaran memberikan makna mendalam dan berkesan sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kompetensi peserta didik baik ranah sikap, pengetahuan maupun ketrampilan. 

Dalam pelaksanaan pembelajaran salah satu hal yang perlu diperhatikan guru adalah strategi pembelajaran, karena hal itu sangat berpengaruh untuk keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan. Mukhtar (2007) mengatakan, strategi pembelajaran berkenaan dengan pendekatan pengajaran dalam pelaksanaan pembelajaran secara sistematik, sehingga muatan pelajaran dapat dikuasai oleh peserta didik secara tepat dan benar. Di dalam strategi pembelajaran terkandung empat pengertian yaitu urutan pelaksanaan, metode, media, dan waktu untuk menyelesaikan setiap tahapan pembelajaran. Dengan kata lain, strategi pembelajaran dapat pula disebut sebagai prosedur yang sistematik dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar yaitu :

  1. Mengarahkan peserta didik untuk tekun menghadapi tugas

Keuletan seorang peserta didik sangatlah penting dalam menghadaapi tugas, supaya tugas dapat dikerjakan dengan serius. Peserta didik yang tekun mengerjakan tugas akan memperoleh prestasi yang baik dalam belajarnya. Guru harus mampu menciptakan kondisi belajar yang dapat mengantarkan peserta didik mencapai tujuan belajar. Guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan menyenangkan bagi semua peserta didik, sehingga bisa tekun dalam belajar. 

  1. Membantu peserta didik dalam menghadapi kesulitan

Peserta didik harus ulet dalam menghadapi kesulitan belajar, sehingga akan memperoleh hasil belajar yang  lebih baik. Peserta didik juga memerlukan kreatifitas berfikir sehingga mampu memecahkan masalahnya sendiri dan tidak terlalu bergantung pada guru. Setiap peserta didik memiliki kreativitas yang berbeda. Peserta didik harus memiliki kemauan yang keras dan usaha dalam mencapai tujuan. Apabila ada usaha keras dalam belajar maka akan mudah menghadapi kesulitan dalam belajar. 

  1. Menunjukkan minat

Peserta didik harus benar-benar mempersiapkan minat dalam belajar supaya memperoleh hasil yang maksimal dan juga nilai yang baik ketika guru melakukan pembelajaran maupun ulangan. Minat sangat berpengaruh terhadap aktifitas belajar peserta didik, oleh karena itu guru sangat berguna dalam membangkitkan minat belajar peserta didik. Adanya minat yang tinggi dalam diri peserta didik akan menjadikan mereka berusaha memperoleh prestasi belajar setingi-tingginya, minat sangat besar pengaruh terhadap hasil belajar.

  1. Mendorong peserta didik untuk senang bekerja mandiri.

Untuk menumbuhkan senang bekerja mandiri peserta didik harus mempunyai rasa percaya diri yang tinggi agar mudah dalam proses pembelajaran. Masih banyak ditemukan rendahnya minat  belajar mandiri peserta didik. Dalam proses kemandirian, peserta didik dalam belajar diperlukan aktifitas agar peserta didik menjadi subjek dalam pembelajaran dan harus menciptakan suasana yang mengaktifkan peserta didik. 

  1. Menghindarkan peserta didik dari cepat bosan dengan tugas-tugas rutin

Dalam proses pembelajaran guru terlebih dahulu perlu menyusun pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang mengakomodasi metode yang bervariasi untuk menghindari kebosanan peserta didik. Dengan metode yang bervariasi maka pembelajaran akan semakin menarik sehingga dapat mendorong peserta didik untuk belajar. Pembelajaran yang dirancang guru diharapkan mampu mengakomodasi ketiga gaya belajar peserta didik yang meliputi audiotori, visual, dan kinestika.

  1. Mendorong peserta didik untuk berani mempertahankan pen- dapatnya.

Peserta didik dapat mempertahankan pendapatnya sendiri dalam proses pembelajaran, apabila keyakinan peserta didik tinggi, maka tidak mudah terpengaruh oleh temannya. Peserta didik yang memiliki kebiasaan bertanya dan memberi respon dari pertanyaan akan memperoleh informasi yang lebih banyak daripada peserta didik yang tidak aktif atau peserta didik yang kurang aktif bertanya. Peserta didik yang memiliki pengetahuan yang minim akan sulit menpertahankan pendapatnya. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Nisa (2011), bahwa peserta didik yang berpartisipasi aktif dan kreatif untuk membangun pikiran mereka dalam pembelajaran, akan mempunyai wawasan yang luas. Jika peserta didik tidak aktif dalam pembelajaran akan menyebabkan peserta didik sulit mempertahankan pendapatnya.

  1. Mendorong peserta didik untuk mempertahankan keyakinannya.

Peserta didik harus bisa mempertahankan keyakinannya, agar mudah dalam pembelajaran. Kebiasaan peserta didik dalam belajar akan mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Peserta didik yang memiliki kebiasaan untuk belajar akan cenderung hidup dengan penuh disiplin dan bertanggung jawab dalam setiap tindakan. Belajar berusaha untuk mencapai prestasi dan hasil belajar yang tinggi akan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru. Peserta didik yang rajin  belajar dan kreatif  akan meningkatkan keyakinan peserta didik tersebut, sehingga tidak mudah terpengaruh dengan temannya. Guru harus mampu memantau serta mengevaluasi kejadian serta mampu melakukan inovasi pembelajaran. 

  1. Mendorong peserta didik untuk senang mencari dan memecahkan masalah

Peserta didik harus senang dalam mencari dan menyelesaikan soal-soal pelajaran yang diberikan oleh guru. Peserta didik perlu mengetahui hasil evaluasinya supaya mengetahui sejauh mana kemampuannya. Guru dituntut untuk memeriksa secara maksimal hasil belajar peserta baik ulangan maupun penugasan serta mengembalikan kepada peserta didik hasil kerja yang sudah dilakukan penilaian tersebut. Guru perlu memberikan apresiasi atau hadiah kepada peserta didik yang dapat berkontribusi dan berpartisipasi aktif saat pembelajaran berlangsung. Apresiasi yang diberikan guru akan mendorong peserta didik lebih termotivasi dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam belajar. 

KESIMPULAN

Masih  ada peserta didik dalam mengikuti pelajaran cenderung hanya untuk melaksanakan kewajiban dan mendapat nilai. Peserta didik belum membuat perencanaan dan pengaturan  waktu belajar yang memadai, mereka cenderung belajar dengan perasaan biasa saja. Pelaksanaan pembelajaran perlu menggunakan model, metode atau strategi yang inovatif sehingga mampu menumbuhkan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan serta mengembangkan pembelajaran yang kontekstual. Pembelajaran yang tepat juga sangat berpengaruh terhadap motivasi peserta didik dalam belajar. Untuk mendorong peserta didik agar selalu termotivasi dalam belajar, guru dituntut lebih giat dan kreatif dalam melakukan pembelajaran.

Oleh: Maaruf Fauzan,

(penulis adalah Widyaiswara LPMP Aceh)

Email: maarufaceh@gmail.com

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan