PENGARUH RESILIENSI AKADEMIK TERHADAP SUBJECTIVE WELLBEING PESERTA DIDIK DI PONDOK PESANTREN

PENGARUH RESILIENSI AKADEMIK TERHADAP SUBJECTIVE WELLBEING PESERTA DIDIK DI PONDOK PESANTREN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh resiliensi akademik terhadap subjective wellbeing peserta didik  Pondok Pesantren. Data penelitian diperoleh melalui skala subjective wellbeing dan skala resiliensi akademik yang telah diuji reliabilitas dan validitasnya. Subjek penelitian ini adalah 87 santri di Pondok Pesantren Ma’had Daarut Tahfiz Al-Ikhlas, terdiri dari 66 santri putra (75,87%) dan 21 santri putri (24,13%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh resiliensi akademik terhadap subjective wellbeing santri di pondok pesantren. Artinya, semakin meningkat resiliensi akademik yang dimiliki peserta didik maka subjective wellbeing juga akan meningkat. Begitu pula sebaliknya, jika resiliensi akademik menurun maka tingkat subjective wellbeing juga menurun. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi stakeholders sekolah untuk meningkatkan subjective wellbeing pada peserta didiknya melalui resiliensi akademik.   

Fajrina Rahmi, S.Psi. M.Psi,

Widyaiswara Muda LPMP Aceh

Email: fajrinarahmi@gmail.com

PENDAHULUAN

Dalam hal pendidikan, semua warga negara mulai dari anak-anak hingga orang tua berhak mendapatkan hak yang sama tanpa memandang sosial status dan sebagainya, bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Dikemukakan bahwa sekolah harus fokus pada pengembangan kesejahteraan peserta didik, dengan membuat keadaan menjadi bahagia, sehat, lebih produktif dan dapat berkembang sesuai fungsinya sebagai manusia. Kesejahteraan psikologis peserta didik selama belajar dan berinteraksi di sekolah merupakan suatu hal yang penting dan harus diwujudkan dalam penyelenggaraan  pendidikan. Hal ini menjadi penting karena sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang dapat menciptakan suatu kondisi tertentu dalam rangka perkembangan kesejahteraan peserta didiknya, baik menuju kesejahteraan yang positif maupun negatif (Ducket, Sixsmith, & Kagan, 2008; Prasetyo, 2018). Peserta didik yang memiliki kesejahteraan  positif atau merasa bahagia di sekolahnya cenderung akan menampilkan dampak positif terutama dalam kaitannya dengan performa akademik yang baik (Turashvili & Japaridze, 2012). Dalam konteks yang lebih luas, peserta didik yang bahagia akan memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi, lebih aktif, dan jauh dari rasa cemas dan stres (O’Rourke &Cooper, 2010). Sebaliknya, ketika peserta didik merasa tidak sejahtera di sekolah, maka akan terjadi dampak negatif seperti mogok  sekolah (school refusal) (Ampuni & Andayani, 2017).

Penerimaan keadaan ini dalam istilah psikologi dikenal dengan subjective wellbeing (subjective wellbeing), yaitu suatu penilaian yang melibatkan aspek kognitif dan afektif terhadap  sesuatu sehingga mempengaruhi kualitas hidup seseorang yang dialaminya termasuk konsep-konsep seperti kepuasan hidup, emosi menyenangkan, dan  tingkat emosi tidak menyenangkan yang rendah (Diener (2003). Evaluasi subyektif ini berkaitan dengan keadaan dan kondisi pondok pesantren yang mengharuskan peserta didiknya untuk tinggal di asrama. Sehingga dampak positif dan negatifnya akan mempengaruhi aktivitas belajar dan prestasi belajar peserta didik (Hamdana, 2015). 

Adapun beberapa hal yang dirasa mempengaruhinya salah satunya adalah Resiliensi . Resiliensi semakin diakui sebagai sifat penting yang dapat dibangun pada peserta didik. Konstruk ini melibatkan kemampuan untuk mengatasi kesulitan dan mencapai tujuan dalam menghadapi rintangan (Connor & Davidson, 2003; Aldridge et al, 2015). Berdasarkan uraian diatas, terdapat penelitian yang menunjukkan hubungan antara resiliensi dengan subjective wellbeing pada remaja di panti asuhan yang dilakukan oleh Tsuraya (2017), namun belum diketahui sejauh mana pengaruh resiliensi terhadap subjective wellbeing. Kapasitas individu untuk mempertahankan kemampuan dan berfungsi secara kompeten dalam menghadapi berbagai stressor kehidupan disebut resiliensi (VanBreda, 2001; Hendriani, 2018). Sejalan dengan pengertian  tersebut, resiliensi  akademik adalah resiliensi dalam proses pembelajaran, yaitu sebuah proses dinamis yang mencerminkan kekuatan dan ketangguhan seseorang untuk bangkit dari pengalaman emosional yang negatif, saat menghadapi situasi sulit yang menekan dalam aktivitas  belajar yang dilakukan. Resiliensi akademik memotret bagaimana peserta didik mengatasi berbagai pengalaman negatif atau tantangan yang sedemikian besar, menekan dan menghambat selama proses belajar, sehingga mampu beradaptasi dan melaksanakan setiap tuntutan akademik dengan baik (Hendriani, 2016). Martin dan Marsh (2003) mendefinisikan resiliensi akademik sebagai kemampuan peserta didik untuk secara efektif menghadapi kejatuhan (setback), tantanga atau tekanan dalam konteks akademis. Definisi lain yang dikemukakan oleh Corsini, (2002; Hendriani, 2018) bahwa resiliensi akademik merupakan istilah yang merepresentasikan ketangguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan akademik. Ia akan merasa optimis dan berpikir optimis, meski sedang berada dalam kesulitan. Peserta didik yang resilien percaya bahwa ada jalan keluar atau solusi atas kesulitan yang dihadapi (Chemers, Hu, dan Garcia, 2001; Hendriani, 2018). Ia juga akan merasa tertantang untuk menyelesaikan berbagai kesulitan akademik yang dimaksud. Kesulitan tersebut mendorong individu resilien untuk mengerahkan segenap potensi agar kompetensinya semakin berkembang. Karakter individu yang resilien secara akademis adalah memiliki kompetensi sosial, memiliki kecakapan hidup seperti mampu memecahkan masalah, mampu berpikir kritis, dan mampu berinisiatif selama proses pembelajaran. Lebih jauh lagi, dikatakan bahwa individu yang resilien dapat meningkat dan menurun seiring berjalannya  waktu. (Henderson dan Milstein 2003; Hendriani: 2018). Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Amalia dan Hendriani (2017) memberikan data tentang tantangan dan kesulitan yang dirasakan oleh peserta didik yang belajar dan tinggal di  asrama sekolah. Penelitian berikutnya menemukan bahwa subjective wellbeing kondisi peserta didik yang tinggal di asrama berada di posisi sedang (tengah) dengan 71,2%. Penelitian ini juga menemukan tiga faktor utama yang mempengaruhi kondisi subjective wellbeing yang positif, yaitu teman yang menyenangkan, menumbuhkan kemandirian, dan membentuk kedisiplinan, dan tiga faktor utama yang mempengaruhi kondisi subjective wellbeing negatif, yaitu fasilitas asrama yang masih kurang, kegiatan yang terlalu padat dan monoton, serta pembina yang pemarah (Hamdana, 2015).

Berdasarkan hasil komunikasi interpersonal, ada peserta didik juga yang merasa tidak sanggup dengan target yang ditetapkan oleh sekolah untuk menghafal, meskipun ketika dipilih mereka peserta didik yang sangat baik dan memiliki kemampuan menghafal yang baik. Dalam resiliensi peserta didik di pesantren, yang tinggal di dalamnya memiliki ruang sosial yang berbeda dari remaja pada umumnya. Kegiatan dan nilai-nilai dalam pesantren sekolah dapat dikatakan memiliki gaya yang khas sehingga tantangan bagi peserta didik di pesantren berbeda dengan peserta didik pada umumnya, walaupun dalam rentang peekembangan yang sama. Berdasarkan hal-hal yang dijelaskan di atas, peneliti ingin untuk mengetahui pengaruh resiliensi akademik terhadap subjective wellbeing peserta didik di pesantren.

Tujuan dan Metode

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui efek dari resiliensi akademik terhadap subjective wellbeing peserta didik di pesantren. Subyek penelitian ini adalah 87 orang peserta didik di pesantren Ma’had Daarut Tahfiz Al-Ikhlas, terdiri dari 66 peserta didik laki-laki (75,87%) dan 21 perempuan (24,13%). Data penelitian diperoleh melalui skala subjective wellbeing dan skala resiliensi akademik yang telah diuji keandalan dan validitasnya. Skala subjective wellbeing didasarkan pada dua dimensi subjective wellbeing sesuai teori dari Eid dan Larsen (2003) yang dirancang dan disusun oleh Halim (2017) yang terdiri dari dimensi kepuasan hidup (kognitif) dan afektif. Skala subjective wellbeing terdiri dari 18 pernyataan item dengan tingkat keandalan 0,878. Skala resiliensi akademik didasarkan pada empat dimensi yaitu menurut Martin dan Marsh (2003), pernyataan tersebut dirancang dan disusun oleh Amalia dan Hendriani (2017). Skala subjective wellbeing menggunakan model Skala Likert dengan lima alternatif pilihan jawaban: 1 (tidak penah), 2 (kadang-kadang), 3 (sering ), (4 jarang), 5 (tidak pernah). Dimensi resiliensi  akademik adalah kepercayaan diri, kontrol,ketenangan, dan komitmen. Skala resiliensi akademik terdiri dari 18 pernyataan item dengan tingkat keandalan 0,903. Skala subjective wellbeing dan skala resiliensi akademik menggunakan model Skala Likert dengan lima alternatif pilihan jawaban: 1 (sangat tidak setuju), 2 (tidak setuju), 3 (netral), 4 (setuju), 5 (sangat setuju). Skor untuk setiap item sesuai dengan jawaban yang diberikan oleh subjek. Namun, pada beberapa item di pernyataan yang tidak mendukung (unfavorable), maka berlaku skor sebaliknya berlaku. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode analisis regresi sederhana. 

PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini hipotesis yang diberikan adalah bahwa ada pengaruh resiliensi akademik terhadap subjective wellbeing di peserta didik di pesantren. Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah metode analisis regresi sederhana. Dari hasil pendataan terhadap 87 peserta didik di pesantren Ma’had Daarut Tahfiz Al-Ikhlas menghasilkan hal-hal berikut:

Analisis Pengaruh Resiliensi akademik terhadap Subjective wellbeing

Model Sum of Squares Df Rata-rata Square F Sig.
1 RegressionResidual 935.6175480.038 185 935.61764.471 14.512 .000a
Total 6415.655 86

Berdasarkan hasil di atas, diperoleh signifikansi 0,00 (Aritmatika F = 14,512, p < ,05), yang  menunjukkan bahwa hipotesis diterima, yakni ada pengaruh yang signifikan resiliensi  akademik  secara signifikan terhadap subjective wellbeing.

Analisis data selanjutnya dilakukan untuk melihat sumbangan efektif resiliensi akademik terhadap subjective wellbeing. Adapun besar kontribusi dapat dilihat dari tabel di bawah ini: 

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .382a .146 .136 8.02939

Tabel di atas memperlihatkan nilai koefisien korelasi (R) dari .382 dan nilai koefisien determinan (R2) sebesar .146. Nilai tersebut  menunjukkan bahwa pengaruh resiliensi akademik terhadap subjective wellbeing sebesar 14,6%, sedangkan sisanya (85,4%) disebabkan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Analisis selanjutnya  dilakukan untuk melihat persamaan regresi antara resiliensi akademik terhadap subjective wellbeing, yang terlihat dari tabel berikut ini:

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant)resiliensi akademik   38.646.432 7.582.114 .382 5.0973.809 .000.000

Analisis Persamaan Regresi resiliensi akademik  terhadap Subjective wellbeing

Persamaan regresi dijelaskan oleh rumus Y’= B0 + B1X1, di mana Y adalah subjective wellbeing sementara resiliensi akademik dilambangkan dengan X1. Berdasarkan tabel di atas, persamaan regresi antara resiliensi akademik dan subjective wellbeing adalah Y’ = 38.646 + .432 X1. Nilai konstanta 38.646 mengindikasikan jika peserta didik tidak memiliki resiliensi akademik, maka nilai konsistensi subjective wellbeing nya sebesar 38.646. Koefisien regresi menunjukkan angka 0,432. Hal ini berarti bahwa jika resiliensi  akademik meningkat sebesar 1%, maka subjective wellbeing meningkat sebesar 0,432. Persamaan di atas menunjukkan bahwa arah pengaruh yang diberikan resiliensi akademik terhadap subjective wellbeing adalah arah positif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi resiliensi akademik maka semakin tinggi subjective wellbeing, dan demikian juga sebaliknya. Berdasarkan analisis regresi dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima yang berarti ada pengaruh positif resiliensi akademik terhadap subjective wellbeing.

Orang-orang yang memiliki tujuan penting dan berusaha untuk mencapainya, mereka lebih energik, mengalami banyak jenis emosi positif dan akan merasa bahwa hidup mereka sangat bermakna (McGregor &amp; Little; 1998; Nayana, 2013). Menurut Bernard (1991), karakter individu yang resilien secara akademis adalah memiliki kompetensi sosial, memiliki keterampilan hidup seperti mampu memecahkan masalah, mampu berpikir kritis, dan dapat mengambil inisiatif selama proses pembelajaran. Selain itu, dikatakan bahwa individu yang resilien memiliki tujuan dan dapat melihat masa depan mereka. Mereka memiliki minat khusus, tujuan hidup, dan motivasi untuk mencapai yang terbaik dalam pendidikan.

         Para peneliti menyimpulkan bahwa subjective wellbeing akan berubah sesuai dengan kondisi kehidupan seseorang. Teori lain daripada kebutuhan dan kepuasan tujuan menyatakan bahwa stabilitas karakter orang juga dapat mempengaruhi skor. Adaptasi seseorang terhadap masalah dalam hidupnya menjadi faktor penentu dalam skor subjective wellbeing.apakah rendah atau tinggi. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukanoleh Tsuraya (2017) menunjukkan ada hubungan antara ketahanan dengan kesejahteraan subjektif pada remaja yang berada di panti asuhan. Resiliensi akademik dimiliki oleh peserta didik di berbagai tingkatan pendidikan. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk penjelasan. Sejumlah hasil penelitian mencatat bahwa resiliensi akademik terkait dengan besarnya tantangan di setiap tingkat studi. Menurut Rirkin dan Hoopman (1991) di Desmita (2009), resiliensi akademik menggambarkan bagaimana peserta didik mengatasi berbagai pengalaman negatif  atau tantangan yang begitu besar, menekan dan menghambat selama proses pembelajaran, sehingga mampu beradaptasi dan tuntutan akademik apa pun dengan baik.

KESIMPULANBerdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh resiliensi akademik terhadap subjective wellbeing peserta didik di pesantren. Implikasinya adalah jika resiliensi akademik meningkat, maka subjective wellbeing juga akan meningkat. Begitu pula sebaliknya, jika resiliensi akademik menurun maka subjective wellbeing juga akan menurun. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi sekolah, khususnya pesantren agar mempertimbangkan faktor resiliensi akademik dalam meningkatkan subjective wellbeing peserta didik mereka.

Oleh: Fajrina Rahmi, S.Psi. M.Psi,

(Widyaiswara Muda LPMP Aceh)

Email: fajrinarahmi@gmail.com

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan