PENGEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA

PENGEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA

Pengembangan Kurikulum di Infonesia

Oleh: Herliana, M.Pd (Widyaprada Madya)

ABSTRAK

Kurikulum merupakan bagian tepenting dari pengembangan dan perbaikan system pendidikan suatu negara. Dengan mempelajari sejarah pengembangan kurikulum akan diperoleh informasi berharga terkait keberhasilan dan kegagalan sebuah kurikulum sebagai alat untuk mencapai cita-cita luhur pendidikan. Kurikulum di Indonesia sejak masa kemerdekaan secara politik berkembang dengan dinamika sentralisasi dan desentralisai pendidikan, perubahan orientasi dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Berkaitan dengan kompetensi guru, kurikulum juga berkembang yang awalnya memberikan panduan spesifik secara nasional hingga memberikan keleluasaan sekolah dan kreatifitas guru secara local untuk memberikan pendidikan yang berbasis pada kebutuhan satuan pendidikan. Pada akhirnya perkembangan teknologi menuntut pengembangan kurikulum terutama pada struktur materi dan model pembelajaran yang mendorong siswa lebih aktif dan berfikir tingkat tinggi sebagaimana tercantum dalam kurikulum terkini yaitu Kurikulum 2013.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan alat untuk terciptanya kehidupan masyarakat yang bermartabat. Hal ini diyakini sejak masa pertama kali umat manusia membangun komunitas, bahkan sebelum Adam AS diturunkan ke bumi, Allah SWT mengajarkan pengetahuan yang dibutuhkan Nabi Adam AS sebagai bekalnya menjalani hidup sebagai manusia yang bermartabat. Pengetahuan itu pula yang menjadikan Adam AS lebih mulia daripada makhluk lainnya, sehingga Allah SWT memerintahkan malaikat dan syaitan untuk tunduk kepada Adam; Al-Qur’an QS. Shaad:71-72:

“(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah” (71) “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya” (72).

Pentingnya pendidikan bagi manusia juga tergambarkan dalam sejarah, bahwa setiap jaman memililiki sistem pendidikan sesuai dengan konteks masanya masing-masing, sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan sistem kemasyarakatan demi menciptakan komunitas yang tertib, berkeadilan, dan membangun masyarakat yang makmur. Sejarah mencatat kegemilangan peradaban di masa lalu karena hadirnya orang-orang berpendidikan. Salah satunya, dalam sejarah perkembangan Islam dikenal peradaban dengan kekuasaan Daulah Abbasiyah yang berlangsung pada masa 132 H – 656 H / 750 M – 1258 M, yang puncak kejayaannya adalah pada masa khalifah Harun Al Rasyid dan puteranya Al Makmum. Sebelum akhirnya jatuh karena penyerangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan (1258 M), berbagai macam disiplin keilmuan meningkat pesat pada pemerintahan Harun Al Rasyid kala itu[1]. Hal ini menggambarkan bagaimana sistem pendidikan dapat mendorong maju dan bertahannya sebuah peradaban.

Sejarah Indonesia juga mencatat bagaimana kerajaan-kerajaan Hindu, Budha dan Islam  menjalankan sistem pendidikan walaupun masih sangat terbatas; di mana akses pendidikan hanya bagi bangsawan dan hanya untuk kepentingan pemerintahan[2]. Pengajaran pada masa ini berlangsung dari guru kepada siswa secara individual maupun perkumpulan di pusat-pusat keagamaan hingga masuknya agama Islam melalui kegiatan perdagangan yang mendorong terciptanya komunitas muslim yang membentuk sistem pengajaran yang awalnya sederhana dengan mengumpulkan anak-anak di masjid hingga perlahan-lahan berkembang menjadi sistem persekolahan (pesantren). Hal ini terjadi secara lebih teratur hingga pada masa Kerajaan Perlak tahun 1243-1267 M di masa pemerintahan Sultan Mahdun Alauddin Muhammad Amin, berdiri majlis ta’lim hingga lembaga setara perguruan tinggi[3].

Pengembangan sistem pendidikan tidak terlepas dari pegembangan rancangan kurikulum yang mendasari tujuan dan strategi bagaimana sistem tersebut dijalankan. Tujuan utama (goal) suatu sistem pendidikan diuraikan ke dalam jabaran kurikulum yang menjadi landasan pelaksanaan hingga evaluasinya. Kurikulum mengatur sistematikan perencanaan terkait apa yang dibelajarkan dalam bidang atau program sekolah; “the systematic planning of what is taught and learned in schools as reflected in courses of study and school programs” sehingga secara dokumentasi kurikulum menjadi panduan bagi guru yang mengatur mandatori dan territorialnya dalam lingkup pendidikan[4]. Untuk itu kehadiran kurikulum dalam bentuk dokumen menjadi penting artinya untuk memastikan kesepahaman antarpemangku kepentingan terhadap rancangan sistem pendidikan yang dilaksanakan.

Dalam sejarah pendidikan Indonesia kurikulum sebagai landasan penyelengaraan pendidikan nasional telah mengalami beberapa kali pengembangan. Sejak awal kemerdekaan Indonesia telah memiliki kurikulum yang disusun untuk memenuhi kebutuhan akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Diamika perubahan politik, budaya dan tuntutan teknologi mendorong pemerintah menyikapinya dengan mengembangkan kurikulum nasional sebagai dasar penyelenggaraan sistem persekolahan di seluruh Indonesia. Mempelajari pengembangan kurikulum dari masa ke masa akan memberikan pembelajaran bagi semua pihak terkait kebutuhan masyarakat sesuai situasi dan kondisi yang sedang berlaku. Untuk itu makalah ini akan membahas pengembangan kurikulum di Indonesia sejak masa kemerdekaan hingga sekarang.


[1] Syauqi, Abrari dkk. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Aswaja Pressindo. Hal 47-48.

[2] Syaharuddin  dan Heri Susanto. 2019. Sejarah Pendidikan Indonesia (Era Pra Kolonialisme Sampai Reformasi). Banjarmasin: Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat.

[3] Susmihara . Pendidikan Islam Masa Kerajaan Islam Di Nusantara . Jurnal Rihlah Vol. 06 No. 01/2018. Hal. 25.

[4] Kattington, Limon E (Editor). 2010. Handbook Of Curriculum Development. Nova Science Publishers, Inc.

New York. Hal. 24.

Penulis:

Herliana, M.Pd (Widyaprada Madya LPMP Provinsi Aceh)

Email: herliana.lpmpaceh@kemdikbud.go.id

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan